Teman Sebatas Status
ian espinosa

Teman Sebatas Status

Biasanya di satu lingkungan akan ada satu atau dua orang yang punya power kuat, beberapa orang standar, sedikit orang ‘tak kasat mata’ yang kehadirannya nggak begitu terasa, dan ada satu orang yang nggak diharapkan kehadirannya. Status si orang tak kasat mata ini memang sedikit nggak jelas, kehadirannya nggak benar-benar diharapkan tapi juga nggak sampai pada tingkatan pantas untuk di-bully dan dikucilkan. Dia cuma diabaikan secara natural oleh lingkungan.

Nah, aku sering merasa menjadi si orang tak kasat mata itu dalam lingkungan sekitarku karena sifatku yang cenderung pasif dan nggak peduli dengan lingkungan sekitar. Percaya deh, kadang justru posisi ini lebih menyebalkan dari pada posisi orang yang ditolak keberadaannya.

Bisa dibilang aku cuma punya lingkaran-lingkaran kecil pertemanan. Aku juga bukan orang yang mudah untuk membangun relasi dengan orang lain. Selesai satu event mereka akan lupa siapa aku, begitu pun aku yang nggak mau lagi peduli dengan mereka. Karna aku tahu, aku akan tersingkirkan dengan sendirinya. Terdengar menyedihkan memang.

Dan dalam satu lingkaran besar pertemanan, secara alamiah pasti kita akan memilah lagi mana yang benar-benar akan kita pilih sebagai teman dekat. Dia adalah orang yang akan mengetahui sifat asli kita.

Aku nggak pernah merasa memilih orang itu, karna aku nggak pernah bisa mengajak seseorang untuk ada di posisi itu. Biasanya aku menunggu orang yang bisa ‘menarikku’ menempati posisi ‘teman dekat’ itu. Makanya, aku merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada mereka yang telah berbaik hati menarikku.

Akan tetapi, semakin dewasa circle pertemananku mulai semakin menyempit. Beberapa teman yang tadinya sangat dekat perlahan menjauh. Entah karna kami terpisah jarak, atau memang kami yang menciptakan jarak itu sendiri.

Kalau boleh jujur, menciptakan jarak dalam hubungan pertemanan adalah suatu hal yang sangat melelahkan. Maka dari itu, kusarankan sebelum terlambat jangan sampai ada jarak di antara pertemanan kalian.

Akan kuceritakan kenapa menciptakan jarak adalah pekerjaan yang tidak terasa tapi sangat melelahkan.

Sahabat Tapi Tidak Berteman

danbo
Image by Alexas_Fotos from Pixabay

Aku berteman dengannya di sekolah menengah. Tentu saja ia yang selalu datang padaku duluan. Bisa dipastikan ia selalu menghubungiku tanpa pernah absen. Kami membahas apapun mulai dari hal penting sampai hal-hal nggak penting tentang cowo di sekolah.

Aku ingat dia akan selalu berkata, “ayo Lak, ikutan!” Kemudian dengan setia datang menjemputku ke asrama. Selalu begitu setiap kali kami ada kesempatan pergi bersama. Darinya aku banyak mengenal teman-teman lain yang mungkin nggak akan bisa kudekati. Hal itu tentu membuatku sangat bersyukur, punya teman yang selalu mau menarikku masuk ke lingkungan baru yang tentunya akan sangat sulit kalau kulakukan sendiri.

Sampai suatu hari, tiba-tiba ia nggak lagi menyapaku. Nggak ada pesan masuk darinya, bahkan nggak ada obrolan apapun di antara kami sepanjang sekolah berlangsung. Dia mendiamkanku, tanpa aku tahu apa alasannya.

Sebagai orang yang pasif, aku nggak pernah terbiasa mengekspresikan secara langsung apa yang aku rasakan. Jadi, ketika dia mulai mendiamkanku, aku juga akan ikut diam. Bukan karena aku nggak mau, tapi aku nggak tahu bagaimana harus memulainya. Saat itulah perlahan-lahan jarak mulai tercipta di antara kami.

Beberapa kali kejadian serupa terulang sampai hari kelulusan kami.  Setiap kali ‘perang dingin’ itu dimulai, maka semakin jauh pula jarak yang sudah kami ciptakan. Namun, saat aku tersadar bahwa ada jurang lebar yang memisahkan kami, saat itu pula semua terasa terlambat. Kami nggak bisa kembali pada posisi kami dulu.

Puncak kekecewaanku padanya adalah saat suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya lewat sebuah pesan singkat, dimana letak kesalahanku, supaya aku bisa memperbaikinya dan mengembalikan keadaan seperti semula. Masih kuat dalam ingatanku, saat itu kemarahannya semakin menjadi. Ia berkata untuk nggak pernah lagi mengungkit soal keadaan kami ini atau ia akan benar-benar menjauhiku selamanya.

Aku terdiam cukup lama memikirkan perkataannya. Berhari-hari kukumpulkan keberanianku bertanya padanya walau hanya sebatas pesan singkat, tapi jawaban yang kudapat jauh dari harapanku. Setelah itu aku mulai nggak peduli lagi ketika dia tiba-tiba diam padaku, menganggap seolah-olah semua baik-baik saja dan nggak terjadi apa-apa di antara kami.

Namanya Silent Treatment

laki-laki sedang diam karena marah

Photo by Salomé Watel on Unsplash

Baru aku tahu, kami sedang menerapkan silent treatment dalam hubungan pertemanan kami. Kalau kalian mau tahu, akan kujelaskan sedikit soal apa itu silent treatment, yang tanpa sadar telah menjadi alasan utama bagaimana jarak muncul di antara kami.

Silent treatment adalah salah satu sikap terkejam untuk menyakiti seseorang, baik itu pasangan, teman, atau keluarga. Pelaku silent treatment akan mendiamkan orang yang ia anggap telah melakukan kesalahan dengan harapan orang tersebut sadar akan kesalahannya dan segera memperbaikinya.

Beberapa orang bahkan menyebut kalau silent treatment is a silent killer, saking besarnya dampak buruk yang dapat ia berikan dalam sebuah hubungan. Biasanya silent treatment dialami oleh pasangan suami-istri atau kekasih. Namun, nggak menutup kemungkinan juga terjadi dalam hubungan pertemanan seperti yang aku alami.

kebanyakan pelaku dari silent treatment adalah perempuan karena pemikirannya yang didominasi oleh perasaan ketimbang logika. Walaupun tak jarang laki-laki juga kerap melakukannya karena terlalu lelah menghadapi pasangannya.

Tindakan silent treatment adalah salah satu bentuk ketidakdewasaan seseorang dalam menghadapi masalah. Ia cenderung menonjolkan egonya untuk memenuhi harapannya. Tindakan ini bisa juga dikatakan sebagai tindakan abusive dan tidak mempedulikan perasaan orang lain, sehingga dapat melukai perasaan dan fisik dari orang yang sedang terkena treatment tersebut.

Memang nggak akan langsung mengenai fisik si ‘korban’, tapi ketika perasaannya terus ditekan maka lambat laun fisiknya pun akan ikut melemah. Terdengar sederhana memang, tapi coba bayangkan betapa besarnya dampak silent treatment ini.

Bagaimana Silent Treatment Merusak Hubungan Kami

Image by www_slon_pics from Pixabay

Jadi, setiap kali ia kesal padaku ia akan mendiamkanku dengan nggak lagi mengirimiku pesan atau nggak mau membalas pesanku. Ia juga menghindar saat kuajak untuk bertemu.

Aku hanya bisa menebak-nebak apa yang telah kulakukan saat kami terakhir bertemu sampai membuatnya kesal. Benar-benar clue less. Lalu, kami akan mendiamkan satu sama lain sampai beberapa minggu. Biasanya, aku akan menghubunginya duluan untuk meminta maaf.

Kemudian ia akan berkata bahwa memang benar ia kesal padaku, tapi nggak pernah mau menjelaskan apa kesalahanku. Ia hanya mengatakan harapannya agar aku bisa berubah menjadi lebih peka lagi padanya. Pola itu terus berulang hingga bertahun-tahun lamanya.

Rasanya sangat melelahkan kalau kalian mau tahu. Aku selalu berkata kalau aku nggak peduli. Tapi sebenarnya selama bertahun-tahun itu aku terbebani dengan pertanyaan, apa salahku? Aku selalu merasa sebagai orang yang bersalah, tapi, nggak tahu apa kesalahanku.

Mungkin akan lebih baik kalau dia terang-terangan memusuhiku dan menolak untuk bertemu denganku. Ketimbang aku harus merasa terombang-ambing dan selalu menebak-nebak. Katanya, aku harus lebih peka. Tapi aku nggak pernah paham definisi peka yang seperti apa yang dia mau.

Nggak ada yang berubah di antara kami, selain hubungan kami yang kian menjauh. Ia mulai asyik dengan lingkungan barunya, begitupun juga aku yang berhasil mendapat lingkungan baru yang lebih sehat.

Kami tetap berteman, kami masih ada dalam satu grup yang kami namai Lovely Familiy, tapi, kenyataannya kami bahkan nggak bertegur sapa. Katanya, kami ini sahabat, tapi rasanya aku lebih memilih untuk nggak bertemu dengannya ketimbang harus merasa canggung dengan keadaan kami.

Kami nggak lagi marahan, aku tahu dosa hukumnya jika kita mendiamkan sesama muslim lebih dari 3 hari. Kami hanya memutuskan untuk nggak lagi peduli dengan urusan masing-masing.

Aku nggak akan menyalahkan dia karena selalu diam saat kesal padaku. Aku juga nggak akan menuduhnya telah melakukan silent treatment padaku selama ini. Karena kenyataannya, aku pun ikut memutuskan untuk nggak peduli lagi padanya. Jadi, aku juga turut andil dalam menciptakan jurang di antara kami. Aku nggak lagi mau pusing-pusing memikirikan sesuatu yang nggak jelas ujungnya karena secara nggak langsung kami ‘sepakat’ kalau nggak ada masalah di antara kami. Saat ini kami hanya memilih untuk fokus pada jalan kami masing-masing.

olla weje

Menulis adalah jalan ninjaku

Leave a Reply

Close Menu