Rasanya Masuk ke Dunia Kerja
Photo by Venveo on Unsplash

Rasanya Masuk ke Dunia Kerja

Sebagai seorang mahasiswa perantauan pasti akan merasakan keadaan yang serba terbatas, terutama dalam hal keuangan. Bagi sebagian anak kost, pola awal bulan makan enak-akhir bulan yang penting bisa makan, tentu sudah menjadi hal yang biasa. Begitu pula aku, mahasiswa rantau yang suplai keuangannya ada di level standar anak kost kebanyakan.

Sebenarnya orangtuaku pasti akan memberiku tambahan uang saku ketika kebutuhan bulananku memang sedang banyak-banyaknya. Namun, seiring bertambahnya umur, aku mulai merasa malu kalau harus selalu merepotkan orangtuaku untuk urusan keuangan.

Aku ingin meringankan sedikit beban mereka dengan mencari-cari pekerjaan yang bisa kulakukan tanpa harus meninggalkan bangku kuliah. Paling nggak, aku bisa memenuhi kebutuhan tersierku dengan uang hasil jerih payahku sendiri.

Selain itu, aku ingin melatih diriku dari jauh-jauh hari untuk masuk ke lingkungan kerja yang sebenarnya. Supaya nanti ketika waktunya tiba, aku nggak datang dengan tanpa bayangan sedikitpun tentang dunia kerja. Apalagi aku bukan orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

Daftar Isi

Mencoba Keluar dari Zona Nyaman

Sekumpulan domba yang sedang istirahata. ada satu domba yang berdiri. domba itu menjadi pembeda di antara domba lainnya
Photo by Nick Fewings on Unsplash

Waktu aku mengatakan ingin mencari pekerjaan paruh waktu, beberapa temanku menanggapinya negatif. Mereka sangsi aku bisa bekerja sambil kuliah. Wajar saja, mengingat aku memang bukan anak yang bisa membagi waktu dengan baik. Mereka tahu betul aku adalah seorang deadliner sejati. Tapi, kali ini aku benar-benar ingin mencoba untuk keluar dari zona nyamanku.

Aku mulai mencari-cari info pekerjaan yang bisa dilakukan oleh mahasiswa tanpa harus mengganggu jadwal kuliah. Saat itu aku baru menginjak semester 3 kuliahku. Beruntungnya aku yang kuliah di Jogja, kota dengan peluang kerja paruh waktu yang sangat banyak. Banyak perusahaan yang mendukung mahasiswa untuk mengembangkan kemampuannya di dunia kerja.

Waktu itu, nggak sengaja kulihat ada pengumuman yang mencari mahasiswa sebagai pegawai paruh waktu di sebuah rumah makan. Tanpa berpikir panjang, aku segera mengajak temanku yang juga berpikiran sama denganku untuk mendaftar. Setelah mendaftar melalui pesan singkat, kami berdua dipanggil untuk wawancara kerja. Sayang sekali, kami gagal pada wawancara kerja pertama kami.

Beberapa minggu setelah itu kami mendapat pesan singkat yang berisi undangan untuk wawancara di sebuah rumah makan lainnya. Cukup mengherankan memang, karena kami nggak pernah merasa mendaftar di rumah makan itu. Tapi kami juga nggak bisa melewatkan kesempatan ini begitu saja. Kami sepakat untuk berangkat memenuhi panggilan wawancara tersebut.

Hari itu juga kami resmi diterima sebagai pegawai paruh waktu di sebuah rumah makan di daerah UGM. Kami bekerja selama 5 jam, mulai dari jam 4 sore sampai jam 9 malam dengan bayaran 3.000 rupiah setiap jamnya. Kami hanya mendapat libur di hari Minggu pada minggu kedua dan keempat setiap bulannya.

Awalnya aku sempat ragu dengan beban kerja dan upah yang bisa dibilang sangat kecil, tapi kuanggap itu sebagai salah satu cara mencari pengalaman baru. Setiap kali mau berangkat, selalu kuyakinkan diriku, bahwa sejak awal aku memilih untuk bekerja adalah supaya mendapat pengalaman terjun langsung ke dunia kerja.

Di rumah makan itu aku kedapatan tugas membuat minum, mengantarkannya ke meja makan, dan membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan kami. Kedengarannya memang sederhana. Tapi bagiku itu adalah ujian kehidupan yang cukup berat. Maklum, seumur hidup aku nggak pernah masuk ke dunia kerja. Apalagi bekerja sebagai pramusaji di rumah makan.

Sebenarnya pekerjaan sederhana itu terasa berat karena gengsiku yang tinggi. Biasanya aku datang ke rumah makan sebagai konsumen, tapi mulai hari itu aku datang sebagai seorang pramusaji.

Lebih-lebih aku harus terima saat ditegur atau diperintah oleh pegawai senior yang usianya jauh di bawahku. Harga diriku sebagai mahasiswa rasanya terusik ketika mereka yang tamatan SMP itu menyuruh-nyuruhku. Sombong? Kuakui saat itu, memang iya.

Aku hanya mampu bertahan selama 4 hari saja bekerja di sana. Rasanya aku nggak akan sanggup kalau harus bertahan lebih lama lagi. Kuputuskan untuk resign di hari keempat aku bekerja lewat pesan singkat.

Aku terlalu takut menghadapi pemilik rumah makan itu untuk resign karena belum ada seminggu aku bekerja di sana.Kuberikan alasan yang kira-kira nggak akan bisa ia tolak. Kukatakan padanya kalau orangtuaku nggak setuju aku bekerja sambil kuliah karena takut akan mengganggu studiku.

Voila! Sesuai dugaanku, ia mengizinkanku untuk mundur meski menyayangkan keputusanku itu. Tapi aku nggak lagi peduli, yang terpenting bagiku adalah berhenti dari sana secepat mungkin.

Beberapa hari setelah aku resign temanku memberikan sebuah amplop yang dititipkan oleh pemilik rumah makan itu untukku. Amplop itu berisi gajiku selama bekerja di sana, jumlahnya 60.000. Sebenarnya aku bahkan nggak berharap akan mendapat gajiku karena rasanya aku nggak pantas menerimanya setelah tiba-tiba memutuskan untuk mundur.

Ternyata, aku yang saat itu belum genap berusia 20 tahun belum siap untuk masuk ke dunia kerja, apalagi dengan pekerjaan semacam itu. Bagiku yang bahkan mengerjakan pekerjaan rumah tangga di rumah saja bisa dihitung dengan jari, bekerja sebagai pramusaji terasa amat sangat berat.

Bisa dibilang ini adalah kali pertama aku mencoba untuk keluar dari zona nyaman. Biasanya aku hanya mengikuti kemana arus akan membawaku pergi. Menghadapi kenyataan, kalau dunia kerja ternyata nggak sesuai dengan bayanganku membuatku kembali berpikir untuk mencari pekerjaan.

Keluar dari zona nyaman tanpa perhitungan yang baik sama saja dengan mendorong diri sendiri masuk ke dalam sarang buaya. Sekali salah ambil langkah, bisa jadi malah akan mendapatkan nasib buruk.

Bekerja + Passion = Seru!

Passion led us here

Photo by Ian Schneider on Unsplash

Setelah sempat merasa salah memilih pekerjaan, akhirnya aku menemukan pekerjaan yang cocok denganku. Sebenarnya nggak bisa dibilang salah juga, sih. Waktu itu aku cuma nggak memilih pekerjaan dengan bijak.

Maksudnya, memilih pekerjaan yang sesuai dengan keadaan dan passion-ku saat itu. Waktu itu yang kupikirkan adalah segera mendapat uang  tambahan, tanpa mempertimbangkan kemampuanku. Yah, selayaknya pemikiran anak kemarin sore yang maunya terima jadi. Bocah.

Selang beberapa tahun, aku kembali mencoba mendaftar kerja. Kali ini aku sudah memutuskannya matang-matang, sebelum memasukkan lamaran. Aku melamar kerja di salah satu sub direktorat yang ada di UGM. Namanya Sub Direktorat Kreativitas Mahasiswa, kami biasa menyebutnya dengan KRM.

Alhamdulillah, aku diterima kerja di sana tanpa harus melewati proses rekrutmen yang panjang dan melelahkan. Kebetulan saat itu KRM sedang mencari pengganti mahasiswa paruh waktu yang sudah selesai bertugas karena baru saja diwisuda.

Pekerjaanku adalah sebagai admin media sosial yang bertugas meliput kegiatan mahasiswa dan mengunggahnya ke akun-akun media sosial milik KRM. Kalau dipikir-pikir, pekerjaan ini memang lebih ribet dibanding pekerjaanku yang sebelumnya. Aku dituntut untuk bisa bekerja efektif dan sesuai dengan target yang diminta oleh pimpinan.

Meski lebih berat, tapi bekerja di sana terasa sangat menyenangkan karna dikelilingi teman-teman yang seru dan pimpinan yang sangat baik. Aku dan teman-temanku sepakat, kalau KRM adalah tempat untuk nongkrong, bukan seperti kebanyakan kantor lainnya. Disana kami bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk sekedar makan-makan sambil tertawa haha-hihi seharian, tanpa menyentuh pekerjaan.

Selain karena lingkungannya berada di kompleks perumahan dosen yang tenang, suasana kantor juga dibuat selayaknya rumah yang nyaman untuk ditinggali. kami bebas melakukan apapun di KRM (asal tetap sesuai dengan aturan tentunya), sehingga menambah rasa nyaman kami ketika berada di sana.

Para pimpinan juga selalu men-support kami untuk urusan akademis. Mereka memberikan kebebasan untuk kami datang ke kantor jam berapapun selama target kerja kami tercapai.

Bekerja di KRM adalah pengalaman yang sangat berharga bagiku. Bukan hanya karna teman-teman yang seru, tapi di sana aku benar-benar merasakan yang namanya berproses menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Di sana aku juga merasakan susah-senang dalam bekerja, mendapat kepuasan ketika pekerjaan yang kulakukan mendapat apresiasi dari orang lain, dan juga berkesempatan bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasiku. Hal itu sangat membantuku dalam mengubah pandanganku tentang banyak hal menjadi lebih baik.

Proses yang kulalui selama bekerja di KRM membuatku sadar, bahwa melakukan sesuatu yang dimulai dari hati akan membuat kita nggak pernah merasa berat untuk terus berjuang. Yang ada hanyalah keinginan untuk belajar lebih baik lagi dan lagi. Karena tentunya ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kesuksesan, yaitu perjuangan.

olla weje

Menulis adalah jalan ninjaku

Leave a Reply

Close Menu