Pengalaman Tahun Pertama Menjadi Mahasiswa
Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Pengalaman Tahun Pertama Menjadi Mahasiswa

Ketika menjadi seorang mahasiswa berarti kamu akan memiliki setengah dari kebebasanmu. Kenapa cuma setengah? Karena kamu nggak terlepas sepenuhnya dari pengaruh bayang-bayang orangtuamu. Maksudku, bukan berarti nantinya setelah selesai kuliah kamu bisa beneran bebas terus melupakan orangtuamu.

Pada fase ini kamu mulai bisa mengambil keputusan sendiri untuk hidupmu. Nggak lagi harus bergantung pada orangtua. Kamu harus mulai merancang masa depanmu dengan lebih serius. Kamu nggak mau kan selamanya berlindung di ketiak orangtuamu?

Membawa titel mahasiswa tentunya juga akan membuatmu memiliki tanggung jawab yang lebih berat ketimbang saat kamu masih SMA. Oleh karena itu, mahasiswa juga dituntut untuk bisa bertanggung jawab atas keputusan yang sudah ia ambil. Baik yang berkaitan dengan dirinya sendiri, atau yang berhubungan dengan orang lain.

Ketika Harapan dan Kenyataan Tak Lagi Sejalan

Sejak sebelum diterima kuliah di UGM aku sudah terbiasa mengurus semuanya sendirian. Termasuk waktu tes penerimaan mahasiswa baru, dimana kebanyakan anak yang lain diantar, bahkan ditunggui di depan lokasi tes.

Walaupun sebenarnya masuk ke UGM adalah suatu hal yang nggak ada dalam rencana masa depanku, apalagi masuk di jurusan Sastra Arab. Sejak awal aku bercita-cita masuk ke fakultas psikologi dengan pilihan pertama universitas yang kutuju adalah Universitas Brawidjaya, lalu Universitas Padjadjaran, dan pilihan terakhir adalah Universitas Sebelas Maret.

Aku mencoba mengikuti tes mandiri UGM dengan memilih Sastra Arab sebagai pilihan pertama karena permintaan umi. Masih teringat betul dengan perkataan umi tiap kali kami membahas tentang kuliahku.
“Umi nggak masalah kamu kuliah dimana aja. Umi ridho, tapi Sastra Arab bagus loh. Kalau di Sastra Arab nanti kamu bisa bla..bla..bla…”

Mungkin kalau cuma sekali dua kali akan kuanggap itu sebagai saran alternatif pilihan jurusan saja. Pada kenyataannya nggak begitu, Alejandro …. Kalimat-kalimat itu selalu menyertaiku sejak aku berencana untuk masuk ke fakultas psikologi.

Bahkan sejak sebelum aku menentukan pilihan jurusan ketika SNMPTN. Lama-lama aku merasa kalimat itu bukan lagi sebuah saran, tapi lebih tepatnya seperti sebuah ‘doktrin’ halus supaya aku mau memilih masuk ke Sastra Arab.

Setelah pengumuman SNMPTN dan SBMPTN keluar, ternyata namaku nggak termasuk di antara puluhan ribu nama yang dinyatakan lolos. Saat itu aku pun mulai luluh. Kupikir memang jalanku adalah masuk di jurusan Sastra Arab, jurusan yang lebih diridhoi umi.

Ingat, ridho Allah ada pada ridho orangtua. Abi akan menyerahkan semua keputusan kepada umi. Itu artinya, ridho Allah ada pada ridho umi. Begitulah pemikiranku waktu itu.

Aku berangkat sendirian dengan mengandarai motor baru hadiah kelulusan sambil terus meyakinkan diri kalau itu adalah pilihan yang terbaik. Aku bahkan nggak pernah ingat apa yang aku kerjakan selama ada di ruangan tes. Karna prinsipku saat itu adalah datang, kerjakan, dan lupakan.

Sepertinya waktu itu aku berangkat dalam keadaan perut kosong karena harus berangkat pagi-pagi sekali. Sepanjang tes yang kupikirkan hanya makanan apa yang paling enak yang akan kumakan selesai tes nanti. Dan pilihannya jatuh kepada Mie Ayam Idola, warung makan langgananku waktu SMA.

Selanjutnya, yang kulakukan saat tes adalah menjawab sekenanya saja. Bayang-bayang mie ayam bakso telah membuyarkan konsentrasiku untuk mengerjakan soal. Aku sudah bertekad akan memesan semangkok bakso komplit dan semangkok mie ayam. Terbaik, memang!

Beberapa hari setelah tes, aku melihat namaku muncul di laman pemberitahuan mahasiswa yang lolos tes mandiri. Aku sangat yakin diterimanya aku di UGM semata-mata karena doa umi.

Kenapa? Pertama, karena jelas aku nggak mengerjakan soal dengan serius. Aku bahkan menjawabnya dengan cara menghitung kancing kemejaku. Kedua, umi sampai mimpi aku diterima masuk Sastra Arab UGM. Jadi, kuanggap itu sebagai petunjuk dari Allah kalau aku harus benar-benar menyiapkan hati supaya ikhlas menjalani masa kuliah di UGM dan melepas cita-citaku sebagai psikolog.

Jadi, kalau ada orang yang bertanya kenapa aku masuk ke Sastra Arab, maka pasti akan kujawab, “Disuruh umi.”

Masa Adaptasi

Belajar di dalam kelas, mendengarkan guru yang sedang menjelaskan pelajaran

Photo by Tra Nguyen on Unsplash

Tahun pertama adalah tahun yang cukup berat untukku karena saat itu adalah masa adaptasi dengan lingkungan baru. Semua hal adalah sesuatu yang baru bagiku, meskipun aku sudah bertahun-tahun tinggal di Jogja.

Sebelumnya aku selalu tinggal di asrama dimana dalam satu kamar di isi oleh banyak siswa dengan berbagai macam peraturan yang mengikat. Berbeda halnya dengan saat kuliah, aku harus membiasakan diri tinggal di kamar kost sendirian dan mengelola semuanya sendiri. Nggak ada lagi jam makan yang teratur, nggak ada lagi teman kamar yang menemani, nggak ada lagi yang mengingatkan untuk mengerjakan tugas, semuanya serba sendiri.

Sebenarnya, untukku yang memang nggak mudah bergaul dengan lingkungan baru, sendiri adalah kata yang sudah nggak asing lagi. Aku cukup terbiasa melakukan semuanya sendirian. Justru yang berat menurutku adalah harus berbaur dengan teman baru dan juga kakak tingkat yang jumlahnya nggak terhitung itu. Terlalu banyak orang yang harus kukenal.

Selayaknya mahasiswa baru pada umumnya, di tahun pertama ini kami banyak mengeksplore tentang kehidupan kampus pada kakak tingkat. Jadi, semua hal kami lakukan berdasarkan pengalaman yang sudah dilakukan oleh kakak tingkat. Terutama dalam hal organisasi.

Bisa dibilang, tahun pertama adalah tahun dimana semangat mahasiswa untuk mencari tahu banyak hal seputar kehidupan kampus sedang tinggi-tingginya. Perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa akan terasa sangat istimewa pada waktu itu.

Tipe-Tipe Kakak Tingkat di Kampus

army soldiers standing on the white floor. Para tentara berbaris di lorong lantai putih
Army soldiers by Pexels.com

Dari sini akan mulai terlihat tipe-tipe kakak tingkat yang ada di kampus. Di awal perkuliahan pasti akan ada kakak tingkat yang kelihatan ramah dan perhatian pada adik tingkat. Ia akan dengan sukarela (beberapa ada yang menawarkan) menyisihkan waktu dan tenaga untuk membantu si adik ini.

Tipe macam ini juga akan terbagi lagi menjadi dua golongan. Pertama, ia adalah orang yang baik pada semua orang dan memang gemar menolong. Kedua, ia menolong dan perhatian hanya pada orang tertentu saja. Biasanya, golongan kedua adalah tipe-tipe kakak tingkat yang sedang mengincar mahasiswa baru untuk didekati. Tau kan mas-mas yang suka baik di awal cuma sama maba cantik aja?

Nah, tipe kakak tingkat yang kedua adalah kakak tingkat yang berinteraksi secukupnya saja dengan adik tingkat. Kalaupun nantinya ia dekat dengan adik tingkat, hal itu berjalan secara natural, mengalir apa adanya. Biasanya, karena kenal di event-event kampus. Menurutku, tipe seperti ini yang paling enak untuk dijadikan teman. Artinya, mereka nggak akan menggangguku dengan kelakuan sok baiknya padahal jelas kelihatan ada maunya.

Tipe yang ketiga adalah kakak tingkat yang sudah mendapat status mahasiswa legend atau veteran. Mereka adalah mahasiswa tua yang sudah sangat jarang terlihat di kampus. Mahasiswa tipe ini adalah kakak tingkat yang kemungkinannya kecil untuk dikenal apalagi mengenal mahasiswa baru. Bahkan kadang ia baru dikenali ketika sama-sama diwisuda.

Beberapa mahasiswa veteran memang masih ada yang rajin ke kampus untuk bergaul dengan adik tingkat atau mahasiswa baru, tapi untuk jenis seperti itu akan sangat jarang di temukan. Mungkin hanya 5% dari populasi mahasiswa di angkatannya. Kebanyakan dari mereka memang lebih suka menghindari kampus dan lebih memilih bersembunyi entah di belahan bumi sebelah mana.

Menjadi mahasiswa memang lebih berat kalau dibandingkan ketika kita hanya menyandang status sebagai siswa saja. Ada banyak tanggung jawab baru yang harus kita jalankan, tapi, hal tersebut juga akan membawa kita pada proses pendewasaan. Makanya, ojo spaneng, dilakoni wae! Semangat buat kamu! 🙂


olla weje

Menulis adalah jalan ninjaku

Leave a Reply

Close Menu