Pendaki Level Cupu

Pendaki Level Cupu

Biasanya orang akan kaget kalau denger aku pernah naik gunung, apalagi pernah sampai ke mahameru. Kuhitung-hitung sudah lebih dari 10 kali aku mendaki gunung di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kalau ditanya gimana, sebenernya aku juga heran. Aku bukan orang yang punya fisik kuat untuk mendaki gunung sebanyak itu, apalagi aku punya riwayat flat feet. Tapi ada saja teman yang mengajakku naik padahal dia tahu, gimana aku akan mengeluh sepanjang jalan, gimana aku akan jalan paling belakang, seberapa sering aku akan berhenti untuk istirahat, dan semua rentetan hal-hal merepotkan lainnya.

Semua Karena Penasaran

tas perlengkapan yang biasa dibawa oleh backpacker untuk bepergian. Bisa mendaki gunung, ke pantai, atau berkeliling kota
Photo by Apaha Spi on Unsplash

Sebenernya aku paling nggak suka dengan semua hal yang berbau aktifitas fisik karena buatku itu sangat melelahkan, walaupun aku sangat sadar kalau tubuhku butuh olahraga. Yah, intinya aku nggak menemukan dimana letak kesenangan dari berolahraga.

Tapi, sejak dulu aku selalu penasaran dengan para pendaki gunung yang mau bersusah payah mendaki sampai ke puncak. Kenapa mereka selalu berkata kalau mendaki gunung adalah suatu hal yang menyenangkan dan membuat mereka kecanduan untuk mendaki lagi dan lagi? Kepuasan seperti apa yang mereka dapatkan dari mendaki sampai membuat mereka selalu mau mengulanginya walau naik ke gunung yang sama sekalipun?

Akhirnya, aku mendapatkan kesempatan mendaki gunung yang telah lama kunantikan. Waktu itu, tiba-tiba aku dihubungi oleh teman sekolahku yang saat itu sedang kuliah di Solo. Ia menawariku ikut mendaki ke gunung lawu bersama teman-teman dari kampusnya.

Awalnya aku ragu karena harus bergabung dengan orang-orang yang belum pernah kukenal sebelumnya. Tapi, ia meyakinkanku kalau mereka adalah orang yang mudah berbaur dan asik. Jadi, perjalanan kami pasti akan terasa menyenangkan.

Dan akhirnya aku termakan bujukannya untuk ikut mendaki. Percaya deh, bukan karena aku sangat penasaran bagaimana rasanya mendaki gunung yang membuat aku mau ikut. Tapi karna ia terus berkata,”Ayo, dong lak ikutan. Kalau kamu nggak ikut nanti jumlah kita jadi ganjil,” dan membuatku luluh mau ikut walaupun minim persiapan.

Kesan Pertama

camping di dalam hutan yang ada di gunung sambil menyalakan api unggun di depan tenda untuk menghangat diri
Photo by Chang Duong on Unsplash

Pagi harinya aku mencari semua peralatan yang kubutuhkan, seperti sepatu, jaket, sleeping bag, tas, dan peralatan yang sekiranya akan kubutuhkan selama perjalanan. Aku berangkat dari Klaten menuju Solo sebelum dzuhur supaya bisa sampai tepat waktu di tempat kami berkumpul. Sebenarnya saat itu aku masih ragu untuk ikut mendaki karena persiapan yang sangat minim itu. Tapi, karna sudah terlanjur mengiyakan ajakan temanku, akhirnya aku memantapkan hati untuk tetap berangkat.

Sekitar jam 1 siang aku tiba di kos temanku. Lalu kami bergegas menuju tempat berkumpul yang sudah disepakati karena beberapa dari rombongan kami sudah ada yang datang. Sampai di sana, ternyata kami masih harus menunggu salah seorang teman kami karena ia masih ada kuliah, sehingga keberangkatan kami harus tertunda beberapa jam.

Dan baru kutahu kalau ternyata dari 6 orang yang akan berangkat mendaki hanya ada 1 orang saja yang sudah berpengalaman mendaki gunung sebelumnya. Sisanya adalah pemula alias newbie, termasuk aku tentu saja.

Long story short, kami tiba di basecamp Cemoro Kandang sekitar jam 7 malam. Sebelum mendaki kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di salah satu warung makan yang ada di sana sambil mengisi perut dan menata ulang perlengkapan kami. Lalu, kami memulai perjalanan sekitar jam 9 malam untuk mendaki gunung Lawu, di awali dengan do’a bersama agar perjalanan kami dilancarkan oleh Allah SWT.

Belum ada lima menit sejak pertama kali aku melangkahkan kaki, rasanya aku sudah dirundung perasaan menyesal sudah mengiyakan ajakan temanku itu. Mendaki gunung itu berat! Sepanjang perjalanan bahkan aku nggak kepikiran untuk bercanda dengan orang-orang yang baru kutemui itu.

Dalam benakku hanya ada bagaimana caranya supaya cepat sampai ke puncak dan langsung pulang ke rumah kembali ke kasurku yang nikmat. Aku semakin heran dengan orang-orang yang doyan naik-turun gunung. Mereka bahkan sampai merelakan waktunya untuk berleha-leha saat liburan dan bersusah-payah demi mendaki gunung. Apa yang sebenarnya mereka incar dari kegiatan melelahkan jiwa dan raga ini?!

Setelah kira-kira berjalan selama 4 jam lamanya, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan bermalam di pos 3. Betapa bersyukurnya aku akhirnya bisa tidur dan meluruskan kaki setelah berjalan cukup lama.

Ternyata semua tidak sesuai dengan harapanku. Udara Lawu malam itu benar-benar dingin, menusuk sampai ke tulang dan membuatku kesulitan untuk bisa memejamkan mata walau hanya 5 lima menit. Aku menyesal hanya membawa sebuah jaket yang nggak begitu tebal. Malam itu aku hanya bisa meringkuk berguling ke kanan dan kiri, mencari posisi ternyaman.

Awalnya kami berencana untuk meneruskan perjalanan jam 2 dini hari agar bisa melihat sunrise di puncak Lawu. Tapi, karena kami semua terlalu lelah (aku baru bisa tidur setelah matahari terbit dan udara nggak sedingin saat malam hari), akhirnya kami baru memulai perjalanan sekitar jam 9 pagi.

Kami tiba di puncak gunung sekitar jam 1 siang. Kesan buruk yang sejak awal tertanam dibenakku perlahan mulai tergantikan seiring dengan perjalanan yang kami lewati. Aku bisa melihat pemandangan yang sangat indah.

Perpaduan antara pepohonan, semak-semak hijau, dan bunga edelweis yang baru pertama kali kulihat wujudnya. Ditambah lagi dengan gumpalan awan putih yang berarak di antara langit biru yang semakin melengkapi semua komponen keindahannya.

Beberapa kali kusempatkan untuk berhenti sejenak, sekedar untuk menikmati pemandangan yang terhampar dihadapanku. Merasakan hangatnya matahari dan semilir angin gunung yang masih tetap terasa dingin meski aku sudah terbalut jaket.

Ternyata inilah daya tarik gunung yang telah menyihir banyak pendaki untuk selalu datang walau harus bersusah payah. Ada harga yang akan kamu terima untuk setiap peluh yang sudah kamu keluarkan. Dan ini se-worth it itu!

Karena Mendaki Gunung adalah Candu

Detik-detik matahari muncul, ketika cahaya jingga mencuat dari ujung langit. Melihat sunrise dari atas puncak gunung
by Ollaweje

Nggak ada yang bisa menggambarkan gimana rasa senangnya melihat semua hamparan pemandangan indah itu. Rasanya aku bisa melepaskan beban yang kubawa selama perjalanan mendaki gunung.

Dari atas gunung aku seolah diberi teguran halus oleh Allah, bahwa aku ini hanyalah seonggok daging berbalut lemak jahat yang nggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang telah Allah berikan. Dari situ aku berpikir, gimana hebatnya Allah menciptakan dan memberikan alam semegah itu dengan gratis untuk dinikmati manusia-manusia ceroboh lagi lalai macam aku ini.

Momen paling romantis sepanjang perjalananku mendaki gunung adalah saat perjalanan di atas jeep antara Ranu Pani sampai ke pangkalan angkutan umum.  Menikmati pemandangan dengan ditemani alunan lagu Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan yang dinyanyikan oleh Payung Teduh.

Bukan dengan siapa, tapi suguhan pemandangan yang luar biasa indah ditambah semburat jingga matahari terbenam di antara bukit dan pepohonan gunung Semeru. Kujamin, keindahannya nggak bisa digantikan dengan candle light dinner paling romantis sekalipun. Seromantis-romantisnya momen yang pernah aku rasakan.

Bisa menginjakkan kaki di atas puncak gunung adalah satu hal yang sangat aku syukuri. Walaupun selama prosesnya aku selalu berjanji dalam hati, ini adalah kali terakhir aku naik gunung. Dan pada akhirnya aku sendiri yang ingkar, karna sebegitu menghipnotisnya mendaki gunung itu.

Sungguhpun, kuucapkan banyak-banyak terima kasih untuk setiap orang yang selalu bisa kurepotkan demi kaki ini bisa melangkah sampai ke puncak sana. Termasuk kamu, terima kasihku untukmu 🙂

olla weje

Menulis adalah jalan ninjaku

Leave a Reply

Close Menu