Menikah di Benak Para Jomblo
TeroVesalainen on Pixabay.com

Menikah di Benak Para Jomblo

Sebenarnya aku nggak tahu kapan mulai ketakutan dengan hal-hal berbau pernikahan. Padahal, kuingat betul dulu aku selalu bermimpi untuk menikah muda. Mungkin itu dimulai sejak aku SMA.

Dulu, aku selalu merasa ‘mau besok atau sekarangpun, aku siap!’ setiap bertanya pada diri sendiri. “Kamu kan dulu selalu bilang mau nikah muda, Met,” kata teman sebangkuku setiap kali kami bertemu setelah lulus SMA. Sejujurnya,  aku bahkan nggak ingat pernah berkata begitu padanya. Menikah adalah suatu hal yang sepertinya jauh dari jangkauanku saat itu. Jadi, tolong jangan hakimi aku, netizen yang budiman.

Bayangan Tentang Pernikahan

wedding ring
Image by congerdesign from Pixabay

Mungkin yang dulu kubayangkan soal pernikahan adalah bisa pacaran versi halalnya saja. Wajar dong? Aku cuma sebuntelan ABG labil yang kalau ‘dipepet’ cowo dikit bisa baper, tapi amat sangat tahu kalau pacaran itu nggak boleh.

Rasa-rasanya waktu itu nikah adalah satu-satunya cara supaya bisa lendetan atau usel-usel manja sama masnya. Ya, menurutku hanya menikahlah solusinya. Boleh ditanyakan sama masnya langsung berapa kali kuberi dia kode halus sampai keras soal menikah muda.

Ternyata dia nggak seserius itu untuk mengabulkan keinginanku. Huft.

Lucu sekali memang kalau diingat-ingat lagi, bisa segampang itu mengajak seorang laki-laki untuk menikahiku. Padahal kami masih sama-sama labil, nggak punya ilmu sama sekali tentang pernikahan. Dasar,bocah.

Merasa ‘kecewa’ karena permintaanku ditolak, akhirnya aku memutuskan untuk nggak lagi menggebu soal keinginan itu. Aku bahkan sampai lupa karena hari-hariku terlalu sibuk dengan haha-hihi bersama teman-temanku. Sampai sekarang pun aku masih belum paham tentang konsep pernikahan ideal.

Sampai suatu hari, seorang mas-mas berkata kalau dia ingin serius denganku. Lalu kujawab santai, “Saya nggak mau pacaran, Mas. Kalau serius ya ke rumah aja.” Tadinya kupikir dia akan menyerah karena sebenarnya aku bilang begitu memang untuk membuatnya menyerah.

Ternyata nggak segampang itu, saudara-saudara sekalian. Dia seolah berkata dengan mantap, “Ya. Aku siap. Kapan aku bisa ke rumah? Boleh minta nomer ayahmu?” begitu katanya. Aku kaget tentu saja. Bukan jawaban seperti itu yang aku harapkan. Saat itu aku benar-benar bingung harus bagaimana. Ia mendesak ingin datang ke rumah di bulan itu juga.

Baru aku berfikir, hey mas, aku masih anak ingusan kemarin sore. Saat itu aku baru menginjak semester 4 kuliahku. Rasanya aku belum siap untuk melepas duniaku yang penuh dengan haha-hihi ini.

Aku masih suka jalan-jalan sendirian. Aku nggak bisa masak. Aku masih belum bisa mengaduk bumbu Indomie goreng dengan rata. Setiap hari kerjaanku hanya jajan bakso tusuk sama Chockles atau beli makan di Olive Fried Chicken, supaya nggak repot.

Aku juga belum khatam naik ke puncak-puncak gunung di Jawa. Aku paling nggak suka nyetrika. Aku masih belum bisa ninggalin kebiasaan tidur habis subuh. Tontonan favoritku masih drama Korea, bukan video tutorial jadi istri solehah apalagi soal parenting. Aku masih bocah, mas.

Mencoba Mengubah Pola Pikir

reset your mind
Image by John Hain from Pixabay

Namun, bukan itu yang membuat aku mengubah pandanganku soal pernikahan. Ini bukan sekedar bisa usel-usel manja lagi. Aku mulai mencoba memposisikan diriku berada di antara dua keluarga. Bagiku, masuk di lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang baru itu jauh lebih menyeramkan ketimbang melihat nilai di PALAWA. Selain itu, ada tanggung jawab baru yang haru kuemban ketika berganti status menjadi seorang istri.

Aku membayangkan tiba-tiba aku harus bergabung dengan keluarga baru dan lepas dari keluargaku. Ada ayah dan ibu baru, kakak baru, adik baru, pakdhe baru, budhe baru, tante baru, dan om baru. Belum lagi ponakan, nenek, kakek, adiknya kakek dari ayah dan ibu baru, serta kakaknya nenek dari ayah dan ibu baru.

Terlalu banyak orang baru dalam kehidupanku yang biasanya adem ayem ini. Mulailah timbul kekhawatiran yang berlebih dalam diriku. Menikah nggak sesepele itu, guys.

Aku khawatir, apa aku bisa diterima di keluarganya? Apa aku dan keluarganya cocok? Apa aku bisa menyenangkan keluarganya? Apa aku bisa berbaur dengan keluarganya dengan baik? Dan yang paling penting, apa aku siap lepas dari keluargaku?

Itu masih tentang keluarga baru. Lalu gimana dengan aku dan masnya? Bisa jadi saat itu kami juga hanya sepasang asing yang sudah dapet lampu hijau dari Allah buat gelendotan.

Pertanyaan lain mulai berdatangan dalam benakku. Dari mana aku harus mulai mengenal dia? Mulai dari kebiasaannya? Apa yang ia sukai dan yang nggak disukai? Gimana lingkungannya? Gimana sifatnya? Siapa yang harus mengenal lebih dulu? Aku mengenalinya atau dia mengenaliku? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang nggak akan bisa kujawab karna aku nggak tau rasanya menikah dan jadi istri.

Dari situ aku mulai menata ulang tentang konsep pernikahan versiku. Ternyata, yang dulu aku anggap sederhana – akad trus halal bisa pacaran berasa dunia milik berdua – beneran nggak bisa lagi disepelekan. Menikah itu bukan hanya soal menyatukan dua orang saja, tapi menyatukan dua keluarga dengan background yang pasti berbeda. Bisa jadi keluarga yang sangat besar.

Semua orang harus bisa menerima kehadiran orang baru itu untuk bergabung dalam keluarganya. Dan pastinya kehadiran orang baru itu akan mengubah banyak hal lainnya di dalam keluarga.

Aku sadar betul, semua kekhawatiran itu muncul karena rasa nggak pedeku. Dengan semua sifat cuek dan nggak pekaku, rasanya bisa sampai tahap ‘mengenali pribadinya’ sudah bisa jadi prestasiku. Ditambah lagi pengetahuan tentang pernikahan yang masih sangat minim.

Dari semua kekhawatiran itu, yang paling kukhawatirkan adalah sejauh mana nantinya dia bisa menerimaku dengan segala hal yang terikat denganku di masa kini, masa lalu, dan masa depan. Memulai sesuatu memang sulit, tapi mempertahankannya adalah suatu hal yang jauh lebih sulit. Ada dua kepala dengan dua pemikiran dan macam-macam sifat yang harus disatukan. Menekan ego masing-masing untuk mencapai satu tujuan yang sama. Menikah nggak hanya butuh kesiapan mental, tapi juga ilmu yang (paling nggak) cukup, supaya bisa berjalan sesuai dengan tujuan awal.

Baru sampai di situ saja aku sudah cukup menyadari kalau ternyata aku belum siap dengan perubahan sebesar itu dalam hidupku. Aku butuh diyakinkan. Terlalu banyak drama yang sudah pernah singgah dihidupku yang akhirnya membuatku semakin berpikir panjang untuk masuk ke tahap itu.

Bagi kalian yang sudah menikah lalu membaca tulisan ini, pasti akan terlihat lucu. Aku juga merasa pemikiranku ini sangat nggak dewasa. Namun, aku yakin di sudut kecil hati kalian dulu juga pernah merasakan apa yang aku rasakan.

Karena yang kutahu, menikah bukan menjawab masalah, tapi menambah masalah dengan masalah baru. Maka dari itu, janganlah kalian manas-manasin orang lain untuk segera menikah. Nggak semua orang punya mental yang sama seperti kalian untuk menghadapi masalah baru itu. Aku, sih…

Satu persatu temanku sudah melepas masa lajangnya. Nggak tahu lagi berapa undangan pernikahan yang aku datangi. Dan aku masih di sini, di tempat yang sama memperhatikan dari jauh. Untuk sekarang, aku masih belum siap untuk berada di posisi itu, nggak tau nanti sore. Yakinin aja dulu, siapa tahu kamulah orangnya 😀

olla weje

Menulis adalah jalan ninjaku

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Close Menu